Puisi Buruh
:-l KETAKUTAN :-l
Waduh celaka apa dikata
Ketika hati tersadar terlempar angan dan mimpi
Diri tergerus oleh arus nyanyian iblis menyayat iman mengoyak taqwa menyeret manusia yang lalai kemuara neraka
Nyanyianmu iblis mendendangkan kenikmatan dan melantunkan keabadian nisbi
Banjir lirih dan luruh keringat jatuh diri tersadar rapuh lusuh ketakutan
Astagpirulloh,
Aku telah lalai terbuai hayal, dan mimpi, dan bisikan iblis yang menyeretku dalam noda dan dosa.
Ketakutan
Lalu insaf.
Perbaiki diri yang penuh cacat perbaiki diri yang penuh alpa dengan iman dan taqwa
Ketakukan, diri yang kecil mungil ibarat debu di hamparan pasir
Ketakutan, raga yang lemah tak berdaya tak berkekuatan lewat semilir angin yang menyentuh qolbu mendera dada
Bangkitkan cinta munajat diri ke hadirat ilahi
Ketakutan, ketakutan, ketakutan, hilangnya cahaya hati, hilangnya rido ilahi yang menyejukkan qolbu
diri ini diliputi ketakutan hilangnya cinta Robbul ijati
LULUH LANTAH
Luluh lantah jiwa yang meronta,gelisah,goyah, terbang melambung tak terarah.
Luluh lantah jiwa yang resah,tercabik-cabik berkeping, bagai puing kehilangan bentuk.
Luluh lantah jiwa yang lemah, bersandar pada ranting yang patah, pecah berserakan
Luluh lantah kembalilah, pada jiwa yang tenang, pada jiwa yang pasrah merunduk sujud dalam hamparan sajadah
Luluh lantah tangan tengadah, mata basah, bersujudlah di atas sajadah
Luluh lantah tinggalkanlah,segala salah, kembalilah, bersujudlah di atas sajadah, raihlah rohman dan rohimnya Allah, raihlah berkah
BURUH MENGGUGAT
Pada hari ini kami berkumpul di bawah teriknya mentari yang panas membakar nurani memanaskan jiwa-jiwa buruh yang lemas buruh tertindas ,luruh, lusuh di bawah bayang-bayang kelabu para penindas dengan menejemen kafitalisnya yang culas feodallistis
Batin kami menangis lirih tak berdaya dihempas kedoliman dan kebohongan
para penjilat yang merampas keadilan hak-hak kami para buruh di pasung hak-hak kami para buruh dipenjarakan dalam kubangan nista kepicikan dan kebohongan
Kami disini, hari ini, berbaris rapi diantara pengawalan pak polisi
diantara debu dan batu jalanan
diantara rerumputan dan pagar besi berduri yang menjadi tirani mereka menjadi saksi bisu
Kami para buruh di tipu
kami para buruh kini berkumpul untuk angkat bicara
Kami para buruh kini berkumpul
untuk menggugat, bongkar kedok penindasan
Bongkar kedok kebohong
yayan sopiyan
Juni 4, 2009 at 5:36 am
walau terik matahari menyengat tubuh kami…
walau hujan menghujam tubuhkami
walau para atasan tak simpatik pada kami…
kami tak perduli………..
tetesan keringat yg ada pada tubuh tubuh kami
akan menjadi pemanis dalam perjuangan kami
hidup buruh….hidup buruh…..hidup buruh….. itulah yg kami teriakkan agar mereka tahu bahwa solidnya kekuatan kami…
buruh bersatu tak bisa di kalahkan………
ahliwaris
Juni 12, 2009 at 9:41 am
BUKAN ROBOT BERNYAWA
Anda Lihat yang disana
Orang-orang berkumpul, berteriak memekakan telinga
Wajahnya memerah penuh amarah
Sang dewa nasib berduka cita
Didepan pabrik mereka meminta keadilan
Namun hanya janji tanpa realisasi
Tuntutan mereka membentur baja
Pilihan kami hanya terus bekerja atau di PHK
Mereka hanya orang-orang yang tak berdaya
Yang mencoba menanyakan haknya
Namun dituduh pengacau kerja
Dianggap pahlawan kesiangan yang berbahaya
Mereka dilarang bertanya apalagi bertingkah
Mereka bukan robot bernyawa yang harus terus bekerja
Menjadi sapi perahan dijaman moderen
Mulut dikunci tak boleh bicara
Inilah nasib buruh
Tidur berjajar menciptakan mimpi indah
Hanya bekerja dan terus bekerja
Mencoba membalik nasib yang ternyata susah
Mereka bukan robot bernyawa
Mereka orang-orang yang berotak
Yang berkeinginan menuntuk hak
Bukan ingin memberontak
Buruh Berpikir
Agustus 2, 2009 at 5:12 am
Sajak Buruh
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
buruh bersatu tak bisa dikalahkan
anak – anak negeri berjalan
pergi menyisir waktu dan ruang
tubuhnya di beli hatinya terkunci
oleh singa-singa industri
seperti melacur….
seperti robot-robot bernyawa…
darahnya mengental keringat mengkristal
dalam panas yang menggumpal
deru mesin-mesin pecahkan telinga
bersama lapar yang menganga
memuja tembaga….
memuja mesin-mesin…..
seperti berhala….
kemanakah nasib buruh negeri ini
kalau upahnya dikebiri
kemanakah nasib buruh negeri ini
kalau hak-haknya dicuri
buruh…bersatulah
enrico
Oktober 16, 2009 at 5:10 pm
Robot bernyawa…itu kata Bang iwan Fals..
tepat banget buat kami…..
yulianto
Januari 31, 2012 at 3:05 pm
semua bersuara lantang tentang nasib saudaraku
semua juga manis tersenyum tentang keadlan di negeriku
tap semua yg bergerak
PEPESAN KOSONG PENGUASA
tetap berjuang saudaraku
BURUH TETAP BERSATU
enrico
Oktober 16, 2009 at 5:08 pm
yang jelas kebatilan muali mendapat perlawanan yg berarti tinggal para dalang yg akan merasakan akibatnya…
jacob ereste
Maret 1, 2011 at 5:08 am
Aku senang puisi buruh. trim ya
jaja upa karawang
April 6, 2011 at 6:15 am
saya suka sekali puisi dengan judul ‘buruh menggugat’ kalo boleh tahu siapa yang menulisnya?trimakasih
emoxpeh ok
September 1, 2011 at 12:28 pm
koooo
UZY Sifarafel dius
Mei 21, 2012 at 7:38 am