BURUH ADALAH MANUSIA

Buruh juga manusia punya rasa punya hati, kami kaum buruh butuh keadilan sesuai hak kami dan kami kaum buruh punya kewajiban yaitu bekerja sesuai kemampuan dan tanggung jawab kami, di mana posisi kami ditempatkan, dan dipercaya untuk mengemban amanah serta tanggung jawab
kami sebagai buruh. Maka dapat dipahami kriteria atau ciri buruh yang baik adalah buruh yang amanah bertanggung jawab terhadap tugas dan pungsi kerja dibagian mana ia diposisikan sesuai kapasitas skil yang dimilikinya, Dan mereka bekerja sesuai dengan standarisasi intruksi kerja dan standarisasi operasional kerja, sehingga menghasilkan produksi yang berkualitas. Intinya buruh yang baik adalah buruh yang melaksanakan tanggung jawabnya dalam bingkai aturan yang telah ditetapkan dan disepakati kedua belah pihak, yakni pengusaha dan buruh yang dijembatani pihak ketiga yaitu Serikat Buruh. Lantas apa yang menjadi kewajiban pengusaha terhadap buruh yang bekerja didalam lingkup proses produksi usaha yang dimilikinya? secara sederhana kami katakan, bagaimana seorang pengusaha mampu memposisikan buruh atau mampu menempatkan buruh dengan perlakuan manusiawi sesuai fitrahnya. Artinya seorang pengusaha sepatutnya memandang dan memperlakukan buruh sebagai manusia, sama dengan dirinya. Buruh bukan sekedar alat produksi, yang mirip mesin produksi yang dapat diekplorasi dan dikuras kemampuan kerjanya. Disini perlu diperhatikan buruh sebagai mahluk manusia dalam kontek hakikinya, memiliki fitrah kemanusiaan yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai syarat bertahan hidup manusia adalah dengan makan dan minum. Inilah yang jadi landasan fitrah kemanusian. Maka sesuai dengan cita-cita negara ini, yang tertuang dalam pancasila sila kelima, yaitu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.
Maka selayaknya kesejahteraan ini menjadi parameter kebijakan pengusaha. Maka ketika hak dan kewajiban seimbang, berjalan berdampingan akan menghasilkan kondisi produksi yang sehat dan dinamis, tidak ada istilah buruh menggugat, atau pengusaha yang mem PHK sepihak, karena guliran roda produksi beputar dinamis tanpa ada sandungan dan hambatan sehingga menghasilkan produksi yang laris. Inilah syarat yang perlu menjadi perhatian keduabelah pihak. Seimbangnya hak dan kewajiban.
Manusia beda dengan mesin, mesin bisa direkayasa dan dimodipikasi menjadi mesin yang produktip
dengan biaya perawatan yang bisa diminimalisir dengan mekanisme program episiensi, episiensi ini janganlah diterapkan bagi buruh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s